Sejarah Islam Di Irak



I.      PENDAHULUAN
Secara historis Irak dikenal sebagai Mesopotamia, yang secara harafiah berarti "di antara sungai-sungai" dalam bahasa Yunani. Tanah ini menjadi tempat kelahiran peradaban pertama dunia yang dikenal, budaya Sumeria, diikuti dengan budaya Akkadia, Babilonia dan Asyur yang pengaruhnya meluas ke daerah-daerah tetangganya sejak sekitar 5000 SM. Peradaban-peradaban ini menghasilkan tulisan tertua dan sebagian dari ilmu pengetahuan, matematika, hukum dan filsafat yang pertama di dunia, hingga menjadikan wilayah ini pusat dari apa yang umumnya dikenal sebagai "Buaian Peradaban". Peradaban Mesopotamia kuno mendominasi peradaban-peradaban lainnya pada zamannya.



Pada abad ke-6 SM, wilayah ini menjadi bagian dari Kekaisaran Persia di bawah Koresy Agung selama hampir 4 abad, sebelum ditaklukkan oleh Alexander Agung dan tetap berada di bawah kekuasaan Yunani selama hampir dua abad. Sebuah suku bangsa Iran dari Asia Tengah yang bernama Parthia kemudian merebut wilayah ini, diikuti dengan Dinasti Sassanid Persia selama 9 abad, hingga abad ke-7.
Di awal abad ke-7, Islam menyebar ke daerah yang sekarang bernama Irak. Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad memindahkan ibukota di Kufah "fi al-Iraq" di mana ia menjadi Khulafaur Rasyidin yang ke-4. Bani Umayyah yang berkuasa dari Damaskus di abad ke-7 menguasai Provinsi Irak.
75-80% penduduk Irak adalah bangsa Arab; kelompok etnis utama lainnya adalah Kurdi (15-20%), Asiria, Turkmen Irak dll (5%), yang kebanyakan tinggal di utara dan timur laut negeri. Kelompok lainnya adalah orang Persia dan Armenia (kemungkinan keturunan budaya Mesopotamia kuno). ±25.000–60.000 orang Arab Masih tinggal di selatan Irak.


II.   RUMUSAN MASALAH

·         DEFINISI                                                                             
·         POTENSI GEOGRAFIS                                                     
·         SEJARAH PEMERINTAHAN                                           
·         GERAKKAN KEAGAMAAN                                           
     TAHAP MASUKNYA ISLAM KE IRAK

III.  PEMBAHASAN
1.    Definisi
            Ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Irak; satu di antaranya berasal dari kota Uruk (atau Erech) dari masa Kerajaan Sumer. Pendapat lainnya mengatakan bahwa Irak berasal dari bahasa Aram, yang berarti "tanah sepanjang tepian sungai." Pendapat lainnya mengatakan bahwa Irak adalah sebuah rujukan kepada akar pohon palma, karena jumlahnya banyak sekali di negara itu.
Negara republik Irak (al-Jumhuriyyah al-Irakiyah) dengan ibu kota Baghdad ini berpenduduk pada sensus 1990 dengan populasi penduduk18.317.000 jiwa. Luas wilayahnya 325.052 km2 dengan kepadatan penduduk 42,1/km2, Bahasa resminya adalah bahasa Arab. Terdapat Agama Islam 95,8% (sunni dan syi’ah), Keristen 3,5 %, dan sedikit Yahudi. Mata uangnya adalah dinar. Negara yang berada di bagian barat daya Asia ini, memiliki batas-batas wilayah; di selatan berbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi, di barat dengan Yordania dan Syria, di utara dengan Turki, dan di timur dengan Iran[1].
Syi'ah: umumnya Arab dengan sebagian Turkmen dan Kurdi Faili hampir semuanya adalah pengikut aliran Dua Belas Imam
Sunni: terdiri dari orang-orang Arab, Turkmen yang menganut Mazhab Hanafi dan orang-orang Kurdi yang memeluk Mazhab Syafi'i.
2.    Potensi Geografis
Irak berada tepat di bagian timur wilayah Bulan Sabit Subur, yang dulu sering disebut daerah Mesopotamia- kosa kata Yunani yang berarti “lahan di antara dua sungai”;sungai Tigris dan sungai Efrat. Kedua aliran sungai ini sangat mempengarui pola kehidupan dan lingkungan penduduk Irak dari masa ke masa.
Karena posisinya yang terletak antara jazirah Arabia Utara dan jajaran gunung Turki serta Iran di sebelah Barat Daya, daerah ini membentuk lintasan tanah rendah antara Syria dan teluk Persia.
Di bawah Dinasti Sassanid Persia, ada wilayah yang dinamai "Erak Arabi" yang merujuk ke bagian dari wilayah barat daya Kekaisaran Persia, yang kini merupakan bagian dari Irak selatan. Al-Iraq adalah nama yang digunakan oleh orang-orang Arab sendiri untuk daerah ini sejak abad ke-6.
3.    Sejarah Pemerintahan
Dua kemajuan besar dalam evolusi sejarah peradaban manusia tampaknya telah dipraktikkan sejak dahulu oleh penduduk Irak. Pertanian dimulai sejak tahun 6.500 SM di kaki bukit pegunungan Irak Utara, sedangkan pengembangan cara menulis telah dimulai oleh bangsa Sumeria.
Banyak dari sumbangan Irak kuno dalam sejarah dan kebudayaan selama zaman Sumeria (4000-2500SM).Termasuk bangsa Sumeria telah mengembangkan penggunaan roda, teknik pandai besi, dan arsitektur candi monumental seperti yang terlihat pada Zigurat  (candi Mesopotamia) yang terkenal itu.
Irak adalah daerah pertama tempat didirikannya sebuah kekaisaran, yaitu selama pemerintahan bangsa Akkaida di ikuti oleh kekaisaran Babilonia, yang berjaya untuk kedua kalinya di bawah kaisar Nebuchadnezzar yang perkasa. Selama kekuasaan Babilonia kedua ini, dibangunlah taman bergantung, yang sekarang maduk sebagai salah satu dari tujuh keajaiban Dunia.
Bangsa Persia mengalahkan Irak pada tahun 539-538SM dan menjadikannya sebagai sebuah provinsi kekaisaran Achaemenid sampai akhirnya mereka ditaklukkan oleh Iskandar yang agung pada tahun 334-327 SM. Berbagai kekaisaran, termasuk Romawi juga ikut memperebutkan wilayah itu, bahkan sampai kekaisaran Sassania. Persia mampu menaklukkannya pada abad ke-3 M. Sejak kebangkitan bangsa Arab oleh dorongan Agama Islam, maka Irak mampu ditaklukkannya pada tahun 637 M masa pemerintahan Umar ibn Khattab sebagai khalifah ar- Rasyiddin ra, pengganti Abu bakar ash-shiddiq ra.yang kemudian dijadikan sebagai basis dari hari ke hari sebagai penyebaran Islam ke Iran dan Asia Tengah. Selama pemerintahan Abbasiyah (750-1258 M) Irak dan ibukotanya, Baghdad, menjadi pusat “Zaman Keemasan” Islam dan bagsa Arab. Kesusastraan, sains, perdagangan, dan perekonomian berkembang pesat. Irak mengalami badai yang dahsyat pada tahun 1258 ketika negri itu ditaklukkan dan dijarah oleh Hulagu, seorang jendral atau khan Mongolia. Hulagu sebagai penakluk bangsa lain, dan Timur Lenk yang sekali lagi menghancurkan Baghdad pada tahun 1401 M, adlah dua nama yang paling terkutuk dalam sejarah Irak. Setelah masa terebut Irak menjadi bagian dari sejarah gelap dan di perintah oleh khan-khan Mongolia (Ilekkhan) sekalipun mereka pada akhirnya menjadi muslim[2].
4.    Gerakan Keagamaan
Menurut kebanyakan sumber-sumber barat, mayoritas bangsa Irak adalah orang Arab Muslim Syi'ah (sekitar 60%), dan Sunni yang mewakili sekitar 40% dari seluruh populasi yang terdiri dari suku Arab, Kurdi dan Turkmen. Orang-orang Sunni menyangkal keras angka-angka ini, termasuk seorang bekas duta besar Irak, yang mengacu ke sumber-sumber Amerika [3]. Mereka mengklaim bahwa banyak laporan atau sumber hanya mencantumkan Sunni Arab hanya sebagai 'Sunni', dan tidak memperhitungkan orang-orang Sunni Kurdi dan Sunni Turkmen. Sebagian berpendapat bahwa Sensus Irak 2003 memperlihatkan bahwa orang-orang Sunni sedikit lebih banyak[4]. Etnis Assyria (kebanyakan daripadanya adalah pemeluk Gereja Katolik Khaldea dan Gereja Assyria di Timur) mewakili sebagian terbesar penduduk Kristen Irak yang cukup besar, bersama-sama dengan orang Armenia. Pemeluk Bahá'í, Mandeanisme, Shabak, dan Yezidi juga ada. Kebanyakan orang Kurdi adalah pemeluk Muslim Sunni, meskipun kaum Kurdi Faili (Feyli) umumnya adalah Syi'ah.
Kependudukan Irak, terpecah dalam hal persoalan ideologi agama. Meskipun lebih dari 95% rakyatnya beragama Islam, mereka terbagi menjadi dua kelompok besar yakni Sunni dan Syiah. Perpecahan ini menjadi penting karena merupakan faktor utama terjadinya perang antara Irak dan Iran yang berlarut-larut sejak tahun1980.
Perpecahan antara kedua sekte itu dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, karena adanya perbedaan pendapat tentang siapa yang dianggap ahli waris yang sah untuk menggantikan Nabi SAW dalam menangani kepemimpinan umat Islam. Orang-orang syiah mengklaim bahwa satu-satunya yang sah sebagai pengganti Nabi SAW adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak mengakui para khalifah al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan) sebelumnya. Akan teapi, selama berabad-abad kaum sunni berhasil dalam memenangkan calon-calon mereka untuk terpilih sebagai khalifah atau pemangku tugas kenabian Muhammad SAW.di dunia politik khususnya. Karena kaum syiah jarang memegang kekuasaan politik, maka sistem keimanan mereka pun telah menjadi bagian dari gerakan politik yang secara tidak langsung memprotes sunni.
Kelompok selanjutnya, yaitu kaum Kurdi, ideologi mereka termasuk Islam sunni. Karena adanya konflik antara Arab sunni dan Arab syi’ah, maka pemerintah Irak (yang di kuasai oleh kaum sunni) harus terus waspada terhadap kemungkinan terjadinya persekutuan antara kaum Kurdi & Aab Syi’ah ini. Terbentuknya persekutuan seperti itu menjadi semakin mungkin, terutama ketika perang pecah antara Irak & Iran pada tahun 1980. Irak juga memiliki warga kristen, yang mencakup 3% dari jumlah penduduk, dan juga kelompok etnik berbahasa turki, yang dikenal sebagai suku turkoman dengan ideologi sunni.Mereka mecakup 2-3% dari jumlah penduduk dan menempati wilayah-wilayah strategis terutama di ladang-ladang minyak utara di sekitar Kirkuk dan Ardabil.
Di wilayah selatan terdapat sejumlah penduduk sampai 2% yang bertutur kata dalam bahasa persia.Sejumlah besar dari kelompok Syi’ah ini telah diusir dari Irak setelah tahun 1980-an. Banyak terdapat tempat-tempat suci agama kaum Syi’ah berada di kota-kota Irak, seperti Karbala, Al-Najar, dan Kazimiyah yang selalu menarik sejumlah besar peziarah Iran.
Kemudian, aliran Irak (Kufah dan Bashrah). Aliran ini adalah aliran yang lebih luas di banding yang lainnya, karena memperhatikan arus sejarah sebelum Islam dan masa Islam sekaligus, dan sangat memperhatikan sejarah para khalifah. Dalam karya-karya sejarawan aliran ini, sejarah Irak biasanya diuraikan lebih terperinci dan panjang, sedangkan yang berkenaan dengan kota-kota lain hanya sepintas saja.
Kelahiran aliran Irak ini tidak dapat dipisahkan dari perkembagan budaya dan peradaban Arab. Perkembangan kebudayaan bangsa Arab itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek politik, sosial, dan budaya Islam yang tumbuh di kota-kota dan komunitas-komunitas baru.[3]
Setelah umat Islam melakukan ekspansi dengan berhasil pada masa ‘Umar ibn Khatthab, orang-orang Arab muslim itu mendirikan beberapa kota kota baru di berbagai daerah yang mereka taklukkan, di antaranya adalah Kufah dan Bashrah di Irak. Mereka pindah ke Kufah dan Bashrah dengan membawa adat istiadat dan tingkah laku Arab. Sebagaimana di Jazirah Arab, mereka di dua kota ini kembali hidup mengelompok berdasarkan kabilah dan klan. Kabilah-kabilah dan klan-klan yang berasal dari Arab Selatan (Yaman) mengambil sisi kota tertentu, dan kabilah-kabilah dan klan-klan yang berasal dari Arab Utara (Hijaz) mengambil sisi kota yang lainnya.
Sebagaimana di Jazirah Arab masa Jahiliyah, di dua kota ini, mereka juga mendirikan pasar-pasar dan mengadakan gelar puisi (Sya’ir), dimana mereka dapat bersuka ria, berdiskusi, dan membangga-banggakan kabilah atau klan mereka.
Langkah pertama yang sangat menentukan perkembangan penulisan sejarah di Irak yang di lakukan oleh bangsa Arab adalah pembukuan tradisi lisan. Hal itu pertama kali dilakukan oleh ‘Ubaidillah ibn Abi – rafi’. Sekretaris ‘Ali ibn Abi Thalib ketika menjalankan ke khalifahannya di Kufah. Di samping itu Ubaidullah telah menulis buku berjudul Qadhaya Amir al-Mu’minin ‘Alayh al-Salam (perkara-perkara pengadilan Amirul mukminin [‘Ali ibn Abi Thalib]), dan Tasmiyah man Syahad Ma’a Amir al-Mu’minin fi Hurub al-Jamal wa Shiffin wa al-Nahrawan min al-Shahabah Radhia Allah ‘Anhum (Nama-nama para sahabat r.a. yang bersama Amir al-Mu’minin [‘Ali ibn Abi Thalib] ikut dalam perang-perang Jamal, shiffin, dan Nahrawan). Oleh karena itu, dia dipandang sebagai sejarawan pertama dalam aliran Irak ini.[4] Dalam penulisan sejarah ini, dia diikuti oleh ziyad ibn Abih yang menulis buku dengan judul Matsalib al-‘Arab.
5.    Tahap Masuknya Islam ke Irak
Di awal abad ke-7, Islam menyebar ke daerah yang sekarang bernama Irak. Sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad memindahkan ibukota di Kufah "fi al-Iraq" di mana ia menjadi Khulafaur Rasyidin yang ke-4. Bani Umayyah yang berkuasa dari Damaskus di abad ke-7 menguasai Provinsi Irak.
Irak (masuk)/ ditaklukkan oleh tentara Arab Islam pada tahun 633-637 dengan membawa bahasa Arab dan ajaran Islam. Penaklukan itu berlangsung dalam tiga tahap berikut ini.
Tahap pertama
Tahap ini terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq di bawah pimpinan Musanna bin Harisah yang menaklukkan bagian barat Sungai Eufrat. Selanjutnya, Abu bakar as-Siddiq mengirim pasukan yang lebih besar di bawah pimpnan Khalid bin Walid. Ia berhasil meguasai Kota Hirah dan al-Ubullah.
Tahap kedua
Tahap ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengirim pasukannya ke utara Bagdad dengan melibatkan banyak panglima terbaik Islam, antara lain Musanna bin Harisah, Abu Ubaidah bin Umar as-Saqafi, jarir bin Abdullah, dan Sa’ad bin Waqas. Tahap kedua ini berlangsung beberapa tahun berhasil menaklukkan seluruh daerah as-Sawad yang sekarang disebut basrah.

Tahap ketiga
Tahap ketiga ini juga terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pasukan Islam dipimpin oleh Iyad bin Ganam. Serangan diarahkan ke daerah yang dikuasai bangsa Romawi dan mampu merebut beberapa kota penting.
Penyebaran agama islam dipusatkan di kota kembar Basrah Kufah yang dibangun pada masa Khalifah Umar bin Khottab. Khlaifah Umar bin Khattab mengirim Abu Musa al-Asy’ari ke Basrah dan Abdullah bin mas’ud ke Kufah. Ulama-ulama dari Madinah juga berdatangan ke kota ini.
Pada masa bani Abbasiyah, pusat pemerintahan Islam berada di Bagdad, yaitu sejak tahun 750-1258. Kota ini dibangun oleh Abu Ja’far al-Mansur. Kerajaan bani Abbasiyah berakhir setelah Bagdad dihancurkan Hulagu Khan. Pada tahun 1258. pada tahun 1401, Irak dikuasai Timur Lenk. Pada tahun 1508, Irak dikuasai oleh Kerajaan Safawi Persia di bawah pimpinan Isma’il Safawi dan pada tahun 1683 dikuasai oleh Kerajaan Turki Usmani.
Pada perang Dunia I, Inggris merebut Irak dari Kerajaan Turki Usmani. Pada tahun 1920, Liga bangsa-Bangsa memberi mandat kepada Inggris atas Irak dan pada tahun 1921 Inggris membantu para pemimpin Irak untuk membentuk pemerintahan.
Pada tahun 1958, kelompok militer mengambil alih kekuasaan dan menyatakan Irak sebagai negara Republik. Sejak 1979, Saddam Husain, seorang pimpinan Partai Ba’at menjadi presiden Irak. Dalam perkembangan selanjtunya, Saddam Hussein membawa Irak terlibat dalam tiga perang besar. Tiga perang tersebut adalah melawan Iran pada tahun 1980-1990 karena masalah perbatasan, melawan Tentara Sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat pada tahun 1992, karena invasinya ke Kuwait. Perang yang terakhir adalah melawan Amerika Serikat dan Iggris yang terjadi pada tahun 2003 yang lalu. Perang ini terjadi karena kepemilikan senjata pemusnah masal Irak dan mengakhiri kepemimpinan Saddam Hussein.
Penduduk irak terdiri dari berbagai macam suku yang sulit bersatu. Oleh karena itu, sampai saat ini mereka masih mengalami permasalahn dalam pembaharuan mereka. Wilayah pegunungan di sebelah utara dihuni suku Kurdi dan minoritas Yazidi, Kristen, dan Terkmen. Wilayah Diyala, di timur Bagdad, dihuni para petani. Wilayah Jazira, diutara Bagdad, dihuni kaum Sunni Badui. Sedangkan wilayah gurun ditengah dan selatan Irak dihuni penganut Syiah. Secara garis besar, diantara berbagai kelompok di atas, ada 3 kelompok yang perananya sangatkuat. Tiga kelompok tersebut adalah Syiah di selatan, Sunni di tangah (bagdad), dan Kurdi di utara.hal ini mengakibatkan sulitnya pembentukan negara dan bangsa Irak. Berdasarkan data pada tahun 2001, jumlah penduduk Irak mencapai 23. 750.00 jiwa.
 
IV.  KESIMPULAN
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam masuk ke Irak pada awal abad ke-7, dan melalui tiga tahapan: 1). Pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq di bawah pimpinan Musanna bin Harisah yang menaklukkan bagian barat Sungai Eufrat. 2). Pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengirim pasukannya ke utara Bagdad dengan melibatkan banyak panglima terbaik Islam. 3). Tahap ketiga ini juga terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Pasukan Islam dipimpin oleh Iyad bin Ganam. Serangan diarahkan ke daerah yang dikuasai bangsa Romawi dan mampu merebut beberapa kota penting.



V.  PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat saya sajikan dan paparkan, mohon ma’af jika terdapat banyak kesalahan, dan semoga bermanfa’at bagi kita semua, terkhususnya bagi penulis sendiri. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam di Perancis

Sejarah Islam di india

Isi 7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Beserta Gambarnya