Sejarah Masuknya Islam Di China



Cina. Karena banyak bagian di Cina, terlebih lagi di bagian barat Cina. Ini tidak seperti Cina yang kau ketahui, misalnya Beijing, dan semua area-area ini. Namun di semua tempat tersebut hampir 100% di sana orang-orang muslim. Tentu saja kisah Aladdin tidak masuk akal, tapi dari contoh ini kita tahu bahwa Aladdin adalah Muslim Cina. Hal ini adalah sesuatu yang jarang diketahui orang.

 


Dan jika kau membaca kisah Aladdin, dalam beberapa kalimat pembukanya, dikatakan, “Aladdin berada di Cina.” Jadi ini memperkenalkan bahwa ada Muslim di Cina. Mereka memainkan peran besar dalam sejarah umat Muslim, tapi sayangnya mereka sebagian besar terlupakan. Ketika kita melihat penyebaran Islam, kita tahu bahwa Islam tersebar di seluruh Timur Tengah. Dari Mekkah menuju ke segala arah. Dan Islam tersebar melalui apa yang kita sebut sebagai “Jalan Sutra”. “Jalan Sutra” adalah jalan diantara Timur Tengah dan Cina, yaitu negeri-negeri Asia Tengah.

Sahabat Rasul, Sa’ad bin Abi Waqqas Diutus ke Cina

Makam Sa'ad bin Abi Waqqas di Guangzhou. (Foto: ikhlas-atilia.blogspot.com)
Makam Sa’ad bin Abi Waqqas di Guangzhou. (Foto: ikhlas-atilia.blogspot.com)
Sejak awal mula Islam, misalnya di zaman Utsman r.a, dia mengirim rombongan ke Cina. Jadi Utsman r.a mengirim sekumpulan Muslim ke Cina, dan salah satu orang yang dikirim adalah seorang Sahabat, Sa’ad ibn Abi Waqqas r.a. Jadi Sa’ad pun mengunjungi Cina, dia adalah utusan yang dikirim Utsman. Dan diriwayatkan bahwa ayahnya ikut bersamanya. Jadi ayahnya yang bernama Abi Waqqas ikut bersamanya dan dikuburkan di Cina, pada akhir hayatnya.

Ada sebuah masjid yang dibangun, karena ketika kaisar Cina menyambut mereka, dia sangat gembira menjalin hubungan dengan kekhalifahan Muslim hingga pada akhirnya dia membangun masjid untuk menghormati mereka, dia membangun Masjid Huaisheng. Huaisheng adalah sebuah masjid memorial. Dan alasan kaisar Cina tersebut melakukan ini adalah untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Masjidnya didirikan untuk mengenang Rasulullah. Dia berkata, “Kekhalifahan yang dimulai darinya (Rasulullah), dan hubungan yang kami miliki (dengan Muslim), aku ingin membangun masjid untuk menghormatinya.” Dan di Masjid Hui Shen diriwayatkan bahwa ayah dari Sa’ad ibn Abi Waqqas, yaitu Abi Waqqas dikubur di sana. Subhanallah.


Masjid Huaisheng. (Foto: en.wikipedia.org)
Masjid Huaisheng. (Foto: en.wikipedia.org)
Jadi kita mengetahui dari Utsman r.a yang mengirim rombongannya, yaitu umat Muslim sudah mengunjungi Cina sejak awal. Mereka kesana untuk berdagang, dan orang-orang Cina juga ingin berdagang dengan Muslim. Umat muslim juga ingin berdagang dengan orang Cina. Jadi terciptalah hubungan perdagangan, dan hal ini menjadi kuat. Dan kota yang dikunjungi Sa’ad adalah Kota Guangzhou. Di masa kemudian, ia berganti nama menjadi Canton. Ini adalah salah satu kota terbesar di dunia sampai sekarang. Dan bahkan pada masa itu ia sudah menjadi salah satu kota terbesar di dunia. Cina adalah negeri yang sangat luas. Tentu mereka masih berdagang sampai sekarang, perdagangan adalah bagian penting dari budaya Cina. Kita akan membahas hal ini nanti, bagaimana hubungan perdagangan antara Muslim dan Cina terus berlanjut sampai sekarang.

Dinasti Song dan Orang Hui (Muslim)

Jadi pada tahun 616 hal ini terjadi, tidak lama setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Guangzhou punya 4 masjid yang sangat besar yang dibangun pada masa awal ini. Dan seperti yang sudah disampaikan, bahwa ayah Sa’ad dikubur di sini. Dan umat Muslim pada masa ini tidak terlalu banyak berpengaruh dalam hal dakwah, yaitu

Kaisar Song. (Foto: id.wikipedia.org)
Kaisar Song. (Foto: id.wikipedia.org)
selama 300-400 tahun. Hanya ada pencapaian kecil yang diraih, hingga sampai sekitar tahun 1000an, ketika sebuah dinasti baru mengambil alih, yaitu Dinasti Song. Ketika Dinasti Song berkuasa, mereka menempatkan para Muslim dalam jabatan urusan perdagangan mereka, seperti semacam Menteri Perdagangan yang mengurusi semua perdagangan. Kantor dan direktur perdagangan selalu dipegang oleh Muslim. Hukum dari Dinasti Song mengatakan, “Haruslah Muslim yang menjabat ini.” Ini karena Muslim merupakan kunci perdagangan, mereka dapat dipercaya dan mereka juga menjadi kunci. Dan orang-orang Cina melihat bahwa menggunakan umat Muslim bermanfaat bagi mereka dan juga bagi umat Muslim. Disamping itu mereka juga menghormati Islam.

Sang kaisar membangun sebuah masjid, bahkan secara umum hampir semua kaisar Cina masa itu tidak mempunyai masalah dengan Muslim. Mereka punya hubungan yang sangat-sangat baik dengan Muslim. Jadi sejak dari awal, hampir semua kaisar menyambut umat Muslim. Pada masa Dinasti Song, sang kaisar mengundang 5.500 Muslim dari Bukhara. Bukhara adalah tempat di Asia Tengah. Imam Bukhari berasal dari Bukhara. Jadi kaisar mengundang 5.500 Muslim untuk tinggal di sebelah utara Beijing. Alasan mengapa dia mengundang mereka ke Beijing adalah karena dia tahu umat Muslim adalah pejuang-pejuang yang sangat mulia, tidak seperti banyak orang Cina pada masa itu. Seperti yang kita lihat, dinastinya terus berubah. Dari Dinasti Ming, lalu ke Song, ini berubah dengan cepat. Hampir semua orang Cina tidak selalu setia. Tapi di sisi lain dia melihat bahwa umat Muslim adalah pejuang yang sangat mulia.

Muslim Hui hari ini. (Foto: forumbiodiversity.com)
Muslim Hui hari ini. (Foto: forumbiodiversity.com)
Jadi di Beijing Utara, ini sedikit dekat ke semenanjung Korea, di sana berdiri kekaisaran bernama Kekaisaran Liao. Dan Kekaisaran Liao mengamcam Dinasti Song. Jadi daripada menempatkan orang-orang Cina, yaitu saudara-saudara sebangsanya sendiri, dia mengundang umat Muslim dai Bukhara. Karena dia berkata, “Mereka bekerja lebih baik daripada orang-orang Cina dalam melindungi negeriku.” Jadi dia mengundang para Muslim. Dan Muslim ini dipimpin oleh seseorang yang bernama Amir. Tapi Pangeran Amir juga mempunyai nama Cina. Orang-orang Cina memanggilnya So Fei Er. Inilah nama Cinanya, So Fei Er. Di sisi lain, para Muslim Arab memanggilnya sebagai Amir. Karena dia adalah salah satu Muslim pertama yang bermukim, dengan kehormatan besar, mereka diundang oleh sang kaisar. Mereka adalah orang-orang yang sangat dekat di hati sang Kaisar. Umat Muslim di Cina zaman sekarang, mereka memanggilnya, “Bapak dari Islam.” Dia adalah Muslim dari Bukhara pertama yang bermukim di Cina. Dan dia tidak hanya bermukim di Cina, dia diundang dengan kehormatan besar oleh sang Kaisar, dan dia dilindungi mereka. Jadi bahkan orang-orang Cina menghormati pria ini. Dan tentu saja para Muslim Cina karena menghormatinya, mereka menjulukinya, “Bapak dari Islam” di Cina. Dan pada masa tersebut, dalam Bahasa Cina mereka menyebut Islam “Da Shi Fa” yang berarti “Hukum Arab”. Dan yang terjadi adalah, Pangeran Amir berkata, “Nama ini Tidak cocok.” Mereka menyebutnya “Hukum Arab”. Karena seperti yang sudah dibahas tadi bahwa mayoritas umat Muslim yang diketahui oleh Dinasti adalah orang-orang Arab yang berdagang dengan mereka. Jadi mereka berkata, “Agama mereka adalah Hukum Arab.” Tapi sekarang ada Muslim dari Bukhara dan mereka bukan orang Arab, mereka dari Asia Tengah. Mereka berkerabat dengan orang Persia, tapi mereka bukan orang Arab. Jadi ketika mereka bercampur dengan orang-orang Cina, mereka dijuluki sebagai orang-orang “Hui.” Karena di Cina ada banyak kelompok. Kelompok terbesar yang biasanya kita sebut orang Cina adalah kelompok “Han.” Han adalah orang-orang berperawakan Cina yang sering kita lihat. Juga ada kelompok-kelompok lain, Tapi Han adalah mayoritasnya. Dan umat Muslim bercampur dengan para Han dan mereka sekarang dikenal sebagai “Hui.” Jadi agama Islam, namanya akhirnya diubah oleh sang Amir. Dia berkata kepada Kaisar, “Ubahlah namanya dari Da Shi Fa menjadi Hui Hui Jou”, yang artinya “Agama Hui.” Dan “Hui” artinya adalah “Muslim.” Dan Kaisar berkata, “Tidak masalah.” Jadi sejak saat itu… “Kau harus menyebut Muslim sebagai Hui. Kau tidak bisa melihat mereka sebagai orang Arab lagi.”

Muslim Pada Dinasti Yuan, Mongol

Pada akhirnya Dinasti Song pun runtuh. Sekarang kita akan maju ke tahun 1270, di mana ada Dinasti Yuan. Dan Dinasti Yuan ada sedikit hubungannya dengan Mongol. Kita akan membahas sedikit tentang orang-orang Mongol. Para Mongol telah menaklukkan sekitar setengah dari dunia, dan mereka memulainya dari Cina, karena Mongolia tepat berada di atas Cina. Jadi salah satu tempat pertama yang mereka taklukkan adalah Cina,

Genghis Khan. (Foto: en.wikipedia.org)
Genghis Khan. (Foto: en.wikipedia.org)
dan menjadi dikenal sebagai Dinasti Yuan. Dan Dinasti Yuan adalah titik kejayaan bagi Muslim, dan di sisi lain menjadi titik kesuraman umat Muslim. Kenapa? Karena hubungan dengan Dinasti Yuan yang merupakan orang Mongol, berbeda dengan orang Han dari Dinasti Han. Dan juga ada Dinasti Ching yang dinamakan berdasarkan salah satu nenek moyang mereka. Jadi inilah nama-nama yang ada, tapi secara keseluruhan, mereka menyebut negeri mereka Cina, atau dalam bahasa Cina, mereka menyebutnya “Jingua.” Ini artinya “Kerajaan Tengah.” Kenapa “Kerajaan Tengah”? Karena mereka percaya bahwa mereka ada di tengah-tengah dunia. Di Timur ada Jepang yang dijuluki “Negeri Matahari Terbit” dan di Barat jauh ada “Al-Maghrib” yang artinya adalah “Tempat matahari tenggelam”, yaitu Maroko. Jadi inilah timur dan baratnya, dan orang-orang Cina meyakini bahwa mereka ada di tengah-tengah dunia. Kita menyebut mereka orang timur, karena kenyataannya mereka berada di sebelah timur dari benua Eurasia. Tapi mereka menyebut diri mereka sebagai “Kerajaan Tengah” dan dari nama “Jingua” inilah pada akhirnya berubah nama menjadi Cina. Jadi dari “Jingua” akhirnya menjadi “Cina”, memang terasa kentara bedanya, tapi melalui perubahan etimologi seiring berjalannya waktu, dari Jingua-lah nama Cina berasal.

Dalam Dinasti Yuan, menjadi titik kejayaan Muslim. Dan di abad ke-14, di bawah Dinasti Yuan, ada 4 juta Muslim di Cina. Jadi kita melihat peran dari umat Muslim dalam Dinasti Yuan. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya, ada titik kejayaan, dan inilah salah satu dari banyak titik kejayaan, yaitu umat Muslim-lah yang mendesain arsitektur Beijing, dan penghormatan yang diberikan kepada umat Muslim. Tapi seperti yang sudah dibahas, Dinasti Yuan adalah orang Mongol, dan orang Mongol juga berlaku buruk kepada Muslim. Mereka memerangi umat Muslim di banyak tempat di front barat. Dan terlebih lagi Genghis Khan, dia mengubah banyak dari kebijakannya terhadap umat Muslim. Jadi salah satu contohnya adalah: Dia melarang penyembelihan hewan dengan cara yang halal. Ini adalah salah satu hukum Genghis Khan. Tentu saja ini membuat umat Muslim sangat marah. Hukum dari Genghis Khan/Yasa pada dasarnya mengatakan: “Kau tidak boleh menyembelih hewan. Yang boleh kau lakukan adalah membelah dada hewannya dan mencabut jantungnya.” Dan inilah cara orang Mongol menyembelih hewan. Tentu saja sebagai Muslim kita tahu bahwa ini tidak diperbolehkan, kita harus menyembelihnya dengan cara halal, karena ini lebih bermanfaat bagi hewan tersebut, ini lebih manusiawi. Jadi hal ini dilarang oleh Genghis Khan.

Umat Muslim sekarang, setelah berhubungan baik dengan pemerintah, tiba-tiba mereka menghadapi masalah. Dikatakan bahwa ada seorang Muslim memprotes Genghis Khan. Dan Genghis Khan berkata, “Semua orang menyembelih hewan dengan cara kami, kecuali kalian para Muslim. Kenapa begitu?” Dan dia menjawab, “Karena agama kami memerintahkan bahwa kami harus menyembelih hewan.” Dia berkata, “Aku melarangmu

Mamluk Mesir vs Mongol
Mamluk Mesir vs Mongol
untuk menyembelih hewan. Apa menurutmu?” Sang muslim berkata, “Aku tidak bisa mematuhi ini.” Jadi Genghis Khan menjadi sangat marah. Dan dia mulai menyiksa banyak umat Muslim karena mereka tidak mau mematuhinya. Jadi ini menjadi salah satu titik suram dari umat Muslim dalam Dinasti Yuan. Karena inilah banyak Muslim mulai memberontak melawan Yuan.

Karena ada Han, ingatlah bahwa kita membicarakan tentang etnis Cina, mereka sangat membenci orang-orang Mongol menguasai daerah mereka. Jadi seiring orang Mongol dikalahkan oleh umat Muslim; yaitu para Mamluk di Mesir, maka para Han berkata, “Kami akan mengambil kesempatan. Kami akan menyerang Mongol juga.” Jadi umat Muslim bergabung bersama mereka. Jadi yang mereka lakukan adalah mengalahkan orang Mongol bersama-sama. Mereka meruntuhkan para Mongol, dan umat Muslim menjadi bagian dari pemain kuncinya dalam pemberontakan melawan Dinasti Yuan.

Dinasti Ming dan Masa Keemasan Islam

Sekarang kita maju lagi ke Dinasti Ming. Setelah Dinasti Yuan telah digantikan, para Mongol sudah diusir, maka berdirilah Dinasti Ming. Inilah Masa Keemasan Islam. Dinasti Ming adalah para Cina dari kalangan Han. Dan mereka sangat-sangat baik kepada Muslim. Pendiri dari Dinasti Ming bermana Zhu Yuanzhang. Dialah yang

Tembok Besar Cina. (Foto: siklusdunia.com)
Tembok Besar Cina. (Foto: siklusdunia.com)
mendirikan dinasti ini, dan dalam pasukannya, dia mempunyai 6 jenderal Muslim. Tentu saja menempatkan seorang jenderal dalam pasukan adalah posisi yang sangat sensitif. Para jenderal, jika kau tidak mempercayai mereka, mereka bisa memberontak dan menggulingkanmu. Dia mempunyai 6 jenderal Muslim. Jadi dia mengirim salah seorang diantara mereka yang merupakan jendral yang paling dipercayainya untuk pergi dan melanjutkan memerangi para Mongol.

Seperti kita ketahui, bahwa para Mongol mulai menyerang Cina lagi, sehingga orang Cina membangun Tembok Cina. Pastinya, hampir semua orang pernah melihat tembok panjang ini yang melintasi pegunungan. Tembok raksasa ini sebenarnya dibuat untuk menghalau orang-orang Mongol. Dan siapakah yang dipercayainya untuk menjaga tembok ini? Salah satu jendral Muslim yang bernama Lan Yuo. Dia adalah jendral Muslim yang merupakan orang yang paling dipercayai Kaisar Zhu YuanZhang. Dia paling percaya padanya melebihi jendral-jendral lainnya. Jadi jendral Muslim inilah yang bertanggung jawab mengalahkan para Mongol. Dia yang memastikan bahwa mereka tidak akan pernah menginvansi Cina lagi. Jadi kita tentu mengerti bahwa sang Kaisar tentunya sangat berterima kasih kepada umat Muslim. Dan kau melihat sebuah hal yang menakjubkan terjadi.

100 Kata Syair Pujian di Masjid Dongguan. (Foto: radioislam.org)
100 Kata Syair Pujian di Masjid Dongguan. (Foto: radioislam.org)
Kaisar ini mempunyai cinta yang besar terhadap Islam. Dia sangat mencintai Muslim, dia menulis sebuah puisi terkenal yang berjudul “100 Kata Syair Pujian.” Ini adalah puisi yang dia tulis untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Dan dia juga memerintahkan untuk membangun banyak masjid. Dan ini karena dia berterima kasih kepada umat Muslim, sedangkan dia sendiri bukan Muslim. Dari puisinya terasa seakan-akan pria ini adalah Muslim berdasarkan dari syairnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatinya. Tapi setidaknya dia berterima kasih kepada umat Muslim karena telah melindungi kekaisarannya. Dia mempercayai Muslim, dekat dengan Muslim, jadi dia menulis puisi berjudul, “100 Kata Syair Pujian.”

Inilah syair yang indah yang ditulis oleh seorang Kaisar Cina, salah seorang paling kuat di dunia pada masa itu, yang menulis puisi tentang Nabi Muhammad SAW. Puisi ini dibuat dengan 4 huruf Cina dalam setiap barisnya. Jadi setiap baris tertera 4 huruf Cina. Jadi puisinya berbunyi:

“Sejak penciptaan alam semesta, Tuhan telah menunjuk seorang pria penyeru yang memiliki keimanan besar ini.
Dari barat dia terlahir dan menerima kitab suci.
Sebuah kitab yang terdiri dari 30 bagian (juz) untuk menuntun semua makhluk.
Seorang tuan dari segala penguasa, pemimpin orang-orang suci.
Dengan bala bantuan dari langit untuk menjaga kaumnya, dengan sholat 5 kali sehari; Dengan sunyi mengharapkan kedamaian.
Hatinya tertuju kepada Allah.
Memberi kekuatan kepada yang miskin, menyelamatkan mereka dari bencana.
Melihat menembus yang tak terlihat.
Menarik jiwa-jiwa dan ruh-ruh dari segala perangai buruk.
Sebuah berkah bagi dunia.
Melintang hingga kepada yang terdahulu, jalan agung yang memusnahkan segala kejahatan.
Agamanya murni dan benar.
Muhammad yang mulia dan agung.”
Allah yang lebih mengetahui. Sungguh ketika kau membaca syair ini, kau langsung mengira bahwa dia adalah Muslim. Ketika kau mendengar syairnya, kau tidak akan tahu kalau dia bukan Muslim. Setidaknya dia mencintai Islam. Dan yang dia lakukan adalah mendirikan banyak masjid di seluruh pelosok Cina. Dia membangun ratusan masjid. Dan dia berkata, “Aku ingin puisi ini untuk ditaruh di setiap masjid di Cina.” Dan kau masih bisa melihat puisi ini di beberapa masjid di Cina di zaman sekarang, yang ditulis oleh sang Kaisar Cina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Islam di Perancis

Sejarah Islam di india

Isi 7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Beserta Gambarnya